Produk Gagal

(Rachel Stefanie Halim: Tunanetra)

Suatu hari, saya mencoba resep dumplings yang diberikan seorang teman dari Polandia. Dia cerita kalau itu adalah makanan sehari-hari keluarganya. Isinya kentang dengan bermacam varian. Nah, karena saya berpikir resep ini cocok untuk cemilan anak saya yang sangat menyukai mashed potatoes dan keju, jadilah eksperimen dumplings dengan isi mashed potato keju plus jamur pun dimulai.

Hampir setengah hari saya habiskan untuk membuat dumplings ini, sambil membayangkan rasanya yang enak dan disukai anak saya.

Dan akhirnya, dumplings pun jadi!

Bentuknya seperti bola-bola. Setelah dingin, mulailah jari saya meraba-raba hasil karya saya yang masih ada di dalam panci.

Tapi… lho kok?

Jari saya hanya merasakan kulit dumplings yang kosong. Isinya kemana???

Owalaaah, ternyata beberapa dumplings terbuka dan isinya moncor keluar. Jadi ibaratnya seperti kura-kura yang pergi dan hanya meninggalkan tempurungnya. Untung cuma tiga dumplings saja yang seperti itu, sisanya berhasil.

Dan ketika saya coba…

Wowww…!

Rasanya… nggak enak banget!

Coba dicocol pakai sambal botol juga sama sekali nggak menolong.

Saya goreng, tetap nggak enak. ???

Masalahnya sekarang masih ada senampan dumplings lagi yang belum diapa-apakan. ?

Dibuang???

Nggak tega rasanya…

Dimakan sendiri?

Nggak deh, makasih…

Akhirnya hanya saya  simpan di dalam kulkas. Setiap hari kepikiran mau diapakan dumplings yang sepertinya lebih cocok disebut “Dartings”.

Akhirnya, saya nekat melakukan penghancuran terhadap si “Dartings” itu.

Saya kasih air panas, lalu dibejek sampai lumat, tambah terigu, kuning telur, garam, gula, terus diaduk-aduk sampai halus. Kebetulan saya masih punya kue keranjang, saya potong-potong menjadi persegi panjang untuk kemudian dijadikan isi si ‘Dartings’, setelah itu langsung digoreng.

Aha!!! Kali ini hasilnya cukup memuaskan!!! ?

Enak, empuk, garing dan yang pasti layak disantap, apalagi kalau dijadikan cemilan sebagai teman minum kopi. ??????

Hanya bentuknya itu lho, sesuatu banget, hehehe…

Tapi seperti petuah orang bijak, ‘Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja, karena kalau luarnya saja jelek, apalagi dalamnya.’

Eh salah ya…

Yang betul itu, ‘Don’t judge the book from it’s cover’.

Jadi hikmah yang bisa saya petik dari pengalaman ini adalah:

“Jangan takut dengan kegagalan. Selagi kita masih diberi waktu untuk memperbaikinya, kita masih punya peluang untuk sukses, karena siapa tahu dari produk gagal itu kita justru menemukan produk masterpiece.”

Related Posts

01

Mar
Artikel

Kebesaran dalam Hal-Hal Kecil adalah Hal Yang Hebat

Di negara China, seorang wanita yang baik hati bernama Nenek Chen*, seorang pemulung, berhenti sejenak dari apa yang sedang ia lakukan dan menyelamatkan Yue Yue, seorang balita berusia dua tahun, yang telah dilindas oleh dua truk, setelah 18 orang yang lewat tidak melakukan apa-apa. Ketika belas kasihnya menjadi berita utama di Tiongkok, banyak yang menyumbangkan uang kepadanya. […]

10

Nov
Artikel

Warga Negara Kelas Satu

Hari Pahlawan rutin kita peringati setiap tanggal 10 November. Tentu saja hal tersebut ditetapkan sebagai hari libur nasional bukan tanpa makna. Selain terus mengenang jasa para pahlawan, penting juga menemukan relevansi arti pahlawan, khususnya di era digital sekarang ini, di mana segala bentuk komunikasi lebih banyak dilakukan dalam dunia maya atau jejaring sosial. Secara etimologis, kata pahlawan[…]