Pakai Masker Oksigen Kita Sendiri Sebelum Menolong Orang Lain

By. Rani K

Saat Anda membaca judul artikel ini, mungkin Anda berpikir, “Wah, egois sekali kalau saya memperhatikan diri sendiri sebelum menolong orang lain” atau Anda mungkin berpikir “mengapa saya harus memperhatikan diri sendiri dulu sebelum memperhatikan orang lain?”.

Manakala awak pesawat memperagakan tindakan keamanan standar, jarang sekali orang yang memperhatikan. Saya selalu menghentikan apapun yang sedang saya lakukan untuk melihat instruksi dari awak pesawat atau kadang saya baca kembali buku petunjuk keselamatan di pesawat karena saya termasuk orang yang takut terjadi apa-apa dengan pesawat yang saya tumpangi. Saya selalu menikmati ketika pramugari menunjukkan masker oksigen dan memberitahu kepada setiap orang, “jika bepergian bersama anak kecil, pastikan kita memasang masker oksigen kita sebelum menolong orang lain”.

Seberapa sering kita mendapat izin untuk mendahulukan diri sendiri?

Terlalu banyak dari kita, terutama perempuan, yang bersalah karena melalaikan diri. Kita diajar untuk mendahulukan pasangan, anak, tetangga dan oranglain, bahkan pekerjaan kita.

Saya seringkali membatalkan olahraga karena ada janji dengan sahabat yang butuh sekali dibantu. Akhirnya saya mengacaukan olahraga saya dan tidak ada orang lain selain saya sendiri yang mengacaukan.

Saya mengalami saat yang menyenangkan dengan sahabat saya, tetapi saya tidak berhenti membahasanya terlebih dahulu dengan diri saya sendiri sebelum menyerahkan waktu saya untuk orang lain.

Terkadang saya memperhatikan para perempuan atau seorang ibu rumah tangga yang mengabaikan rasa nyeri didalam tubuh mereka sendiri dan meminimalkan kebutuhan diri mereka. Kita terus memakai standar ganda bagi diri kita sendiri. Kita menempatkan diri kita paling akhir. Kita tidak pernah memperlakukan orang lain seburuk kita memperlakukan diri sendiri.

Salah satu contoh di hidup saya, selalu senang membantu orang lain masalah keuangan dengan memberi hasil kerja keras saya kepada orang lain tanpa memikirkan situasi saya, dan sampai saya kurang memperhatikan keadaan keuangan saya, saya ingat masukan dari pemimpin saya:”bangunlah akar keuangan kamu dulu setelah itu  baru kamu bisa membantu orang lain”. Jangan sampai diri sendiri berhutang demi membantu orang lain dan pada akhirnya saya yang menderita sendiri.

Kita belajar juga dari situasi pandemic sekarang, kita terkadang mengharapkan orang lain memakai masker dan merawat diri mereka, tapi terkadang kita lupa kalau kita harus terlebih dulu  memakai masker dan merawat diri kita.

Bagaimana kita mengubahnya? Bagaimana kita memasang masker oksigen kita terlebih dahulu?

Pertama-tama, beri izin kepada diri kita untuk melakukannya. Anggap ini sebagai surat izin resmi untuk merawat diri dengan lebih baik. Pengasuhan dan perawatan diri kita ada di tangan kita sendiri, bukan orang lain.

Tips dari Dr. McKee yang memberikan beberapa solusi untuk dicoba, dan saya hanya rangkum beberapa yang saya belajar mempraktekkannya:

Merawat diri sendiri: Jangan kurang menghormati komitmen kita kepada diri sendiri dibandingkan komitmen kita kepada orang lain. Atur waktu untuk diri kita sedemikian rupa sehingga kita punya cukup waktu untuk diri sendiri. Kita bisa melakukan aktifitas olahraga, yoga, jalan pagi, melatih tubuh untuk sehat.

Mengambil Kembali: Jangan menyerahkan remote control emosi kita kepada orang lain. Tidak lagi menyalakan: “Orang itu membuatku kesal… Bos membuatku sakit kepala… Anak-anak membuatku pusing”. Ambil Kembali remote control itu dan tekan tombol TENANG. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan raksi emsoial kita terhadapnya.

Bernafas panjang: Menangkap tanda-tanda untuk melatih nafas baru kita, misalnya ketika berhenti di lampu merah, mendapat wasap dari bos, mengerjakan sesuatu yang bikin kita kesal atau harus menunggu di antrean toko. Lakukan satu atau dua kali sepuluh nafas perut dan katakan pada diri sendiri, “Semuanya baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja”

Melakukan sesuatu yang menyenangkan: Setiap minggu atau setiap hari sisihkan 30-60 menit untuk dinikmati oleh diri kita. Jadikan itu sesuatu yang menyenangkan bagi kita. Menikmati keindahan selama satu jam, pergi ke toko bunga. Lakukan satu jam untuk berada di alam dan menyerap sinar matahari. Luangkan satu jam untuk mendengarkan music, atau ke salon melakukan refleksi. Jika kita tidak bisa mengambil 60 menit sekaligus, berilah hadiah kenikmatan untuk  diri sendiri.

Mendaftarkan berkat kita: Ketika terjebak kemacetan lalu lintas, pandangi sekitar kita dan buatlah daftar syukur singkat dengan smartphone Anda atau buku catatan Anda, atau saat Anda sedang kelelahan atau merasa capai dengan orang-orang disekitar Anda, ingat kembali hal-hal yang membuat kita bersyukur.

Pandangan jarak pendek: Melihat hidup sebagai serangkaian lari jarak pendek, bukan sebuah marathon panjang yang garis akhirnya tak tampak. Di antara lari jarak pendek ini, beristirahatlah dan bugarkan diri.

Aristoteles memisahkan dunia menjadi berpikir, merasa dan bertindak. Saya belajar dari kutipan Aristoteles “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang.”  Usahakan membiasakan diri untuk mencintai diri kita sebanyak kita mencintai setiap orang lain.

Pasang masker oksigenmu terlebih dulu maka setiap orang di sekelilingmu juga akan lebih mudah bernapas

Related Posts

14

Jul
Artikel

Tips Menjadi Pribadi yang Kreatif

By. Rachel Stefanie Halim   Sebagai seorang tunanetra, kreatifitas sudah merupakan suatu keharusan apabila saya ingin tetap hidup maksimal, karena saya harus melakukan hal-hal biasa dengan cara-cara yang tak biasa. Misalnya saja, jika kamu berjalan dengan sepasang mata, maka saya harus terbiasa berjalan dengan sebuah tongkat. Jika kamu membaca buku atau menonton televisi dengan indera penglihatan, maka […]

09

Jul
Artikel

Emosi Menentukan Keberhasilan

Mungkin selama ini kita berpikir bahwa keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh tingkat intelektualnya, pendidikan yang tinggi, atau nasib baik. Tapi sebenarnya kunci keberhasilan yang sejati terletak pada faktor emosi, dan kita seringkali melupakan dan meremehkan kekuatan yang satu ini. Faktanya, 80% pilihan-pilihan yang kita ambil ditentukan oleh faktor emosi. Jika kamu ingin berhasil dalam karir, keluarga atau[…]