Berita & Artikel


Gen Z di Dunia Kerja: Bekerja Keras, Tetapi Juga Berjuang dalam Diam

Seorang supervisor muda pernah berkata dalam sebuah sesi pelatihan,
“Target kerja saya tercapai, tetapi rasanya lelah sekali… bukan lelah fisik, tapi lelah di kepala.”

Cerita seperti ini semakin sering terdengar. Banyak profesional muda terutama dari generasi Z datang ke dunia kerja dengan semangat, kreativitas, dan keinginan belajar yang tinggi. Namun di balik itu, banyak dari mereka menghadapi tekanan mental yang tidak selalu terlihat.

Berbagai laporan terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini bukan sekadar persepsi. Survei global Deloitte menemukan bahwa sekitar 40% Gen Z merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu, dan pekerjaan menjadi salah satu penyebab utama.

Di Indonesia, laporan media SindoNews juga menunjukkan bahwa kelelahan kerja kronis (burnout) semakin sering dialami pekerja muda, terutama pada generasi yang baru memasuki dunia profesional.

Fenomena ini bukan terjadi karena generasi ini lebih lemah. Justru sebaliknya—mereka hidup di era yang bergerak sangat cepat, penuh ekspektasi, dan sering kali tidak memberi ruang cukup untuk jeda.

Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat

Ada beberapa hal yang sering menjadi sumber tekanan bagi generasi muda di tempat kerja:

Mereka ingin berkembang cepat, tetapi realitas karier membutuhkan proses.
Mereka ingin berkontribusi, tetapi sering menghadapi target dan perubahan yang cepat.
Mereka terhubung secara digital sepanjang waktu, sehingga batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin tipis.

Akibatnya, banyak yang tetap terlihat produktif dari luar, tetapi secara mental mulai kelelahan.

Dan ketika kelelahan mental terjadi, dampaknya bukan hanya pada individu—tetapi juga pada tim, komunikasi, kreativitas, dan bahkan kinerja organisasi.

Mental Health Bukan Sekadar Istirahat

Menjaga kesehatan mental bukan hanya soal cuti atau liburan.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan dan cara berpikir yang sehat dalam bekerja.

Beberapa langkah sederhana yang terbukti membantu antara lain:

Menentukan batas kerja yang jelas, termasuk waktu untuk benar-benar beristirahat.
Belajar memprioritaskan pekerjaan, bukan mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus.
Melakukan refleksi singkat secara rutin untuk mengenali kondisi emosi dan energi diri.
Membangun komunikasi yang terbuka dengan atasan, mentor, atau rekan kerja.

Hal-hal kecil ini sering kali menjadi fondasi kesehatan mental yang kuat.

Peran Pembelajaran dalam Menjaga Kesehatan Mental

Salah satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa kesehatan mental juga dapat dipelajari dan dilatih.

Memahami bagaimana stres bekerja, mengenali tanda burnout, dan mempraktikkan kebiasaan mental yang sehat merupakan keterampilan yang bisa dikembangkan—bukan sekadar bakat alami.

Melihat kebutuhan ini, Qando Qoaching mengembangkan modul digital pembelajaran yang membantu peserta memahami dan mempraktikkan kesehatan mental di tempat kerja modern: cando-learning

Melalui pendekatan microlearning yang singkat, praktis, dan aplikatif, peserta dapat belajar:

  • mengenali tanda stres dan burnout lebih dini
  • membangun kebiasaan kerja yang lebih sehat
  • menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan diri

Pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan, terutama bagi generasi Z yang terbiasa belajar secara digital dan fleksibel.

Menjadi Produktif Tanpa Kehilangan Diri

Generasi Z membawa energi baru ke dunia kerja—ide yang segar, keberanian mencoba hal baru, dan semangat kolaborasi.

Tantangan kita bersama—sebagai individu, pemimpin, maupun organisasi—adalah memastikan bahwa semangat itu tidak habis karena tekanan yang tidak terkelola.

Karena pada akhirnya, organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang bekerja keras, tetapi oleh orang-orang yang bekerja dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan tujuan yang jelas.

id_ID