Ber EMPATI ditengah Wabah Corona

Tahun 2020 belum lama berjalan, namun dunia dikejutkan dengan kemunculan virus mematikan. Virus Corona Wuhan, atau virus n-CoV pertama kali merebak di kota Wuhan, Tiongkok dan menyebar dengan masif hingga ke berbagai negara. Semua panik. Segala cara antisipasi menyebar cepat seolah berlomba dengan kecepatan wabah virus itu sendiri. Kota yang selalu sibuk, kini dalam sekejap menjadi sunyi senyap. Para manusia yang terbiasa berjalan tegap dengan dagu terangkat, kini tertunduk lunglai, wajah angkuh berubah menjadi penuh ketakutan dan kecurigaan. Kasih antar sesama semakin dingin. Bahkan virus Corona telah berhasil merusak pikiran yang rasional menjadi irasional.

Salah satu kasus dari sekian kasus yang irasional terjadi di Itali. Pagi ini saya mendapatkan WhatsApp dari teman saya yang adiknya tinggal di Italia. Saat ini negara Italia sudah hampir 3 minggu memperlakukan lockdown. Italia termasuk 4 negara yang warganya paling banyak  tertular virus covid 19. Kebetulan adik teman saya itu adalah warga Indonesia keturunan China, dan pernah mengalami diskriminasi karena dianggap penyebar virus. Suatu hari dia berpergian dengan bus. Di samping seorang pemuda Italia masih terdapat bangku yang kosong, dengan bahasa Italia dia pun bertanya apakah dia boleh duduk di samping pemuda Italia tersebut? Pemuda itu pun menjawab, boleh…

Namun, apa yang terjadi? ketika dia duduk, seketika itu juga pemuda Italia itu beranjak pindah ke tempat duduk yang lain. Tepatnya, pemuda Italia itu tak mau berdekatan dengan warga yang berwajah oriantal, dianggapnya semua warga China adalah  pembawa virus. Bukan hanya itu saja, semua toko restoran  di sana pun menempel kertas bertuliskan nada sinis yang memojokkan warga China, baik  yang berdomisili di Italia maupun turis China.

Tapi coba kita perhatikan apa yang dilakukan negara China sendiri dalam menanggapi kasus ini?

Meskipun warganya dihina dan didiskriminasikan, namun mereka tetap bersikap baik, seperti ketika semakin banyak warga Italia yang tertular covid 19, negara China mengirimkan paramedis dan peralatan medis untuk membantu warga Italia.

Baru-baru ini, media sosial di Indonesia pun viral memberitakan tentang aksi heroik dari seorang dokter keturunan China, dokter Handoko Gunawan, dokter paru yang mengabdikan dirinya untuk  menangani pasien COVID-19 di Rumah Sakit Graha Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di usianya yang sudah memasuki 80 tahun, ia tetap menangani pasien virus corona, bahkan sampai pukul 3 pagi, hingga ia pun dikabarkan jatuh sakit. Saat dokter lain menolak menangani pasien Corona, dokter Handoko justru menawarkan dirinya. Dia berkata walaupun dia harus mati, dia sudah siap.

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kasus-kasus di atas?

Sesuai pedoman Pancasila sila kedua; Kemanusiaan yang adil dan beradab, hendaknya kita juga dapat menanggapi tragedi luar biasa ini dengan cara yang adil dan beradab. Janganlah kita mudah terprovokasi oleh segelintir oknum yang tidak bertanggungjawab dengan menyebar berita palsu atau berita yang justru semakin membuat keruh suasana. Berhentilah saling menuduh atau saling menyalahkan. Bangunlah rasa empati antar sesama mahluk ciptaan, karena kebaikan yang kita sebarkan akan berbalik kepada kita sendiri. Tetaplah berdoa dan taatilah semua himbauan pemerintah kita berdoa semoga badai cepat berlalu.

Related Posts

18

Sep
Artikel

Pakai Masker Oksigen Kita Sendiri Sebelum Menolong Orang Lain

By. Rani K Saat Anda membaca judul artikel ini, mungkin Anda berpikir, “Wah, egois sekali kalau saya memperhatikan diri sendiri sebelum menolong orang lain” atau Anda mungkin berpikir “mengapa saya harus memperhatikan diri sendiri dulu sebelum memperhatikan orang lain?”. Manakala awak pesawat memperagakan tindakan keamanan standar, jarang sekali orang yang memperhatikan. Saya selalu menghentikan apapun yang sedang […]

14

Jul
Artikel

Tips Menjadi Pribadi yang Kreatif

By. Rachel Stefanie Halim   Sebagai seorang tunanetra, kreatifitas sudah merupakan suatu keharusan apabila saya ingin tetap hidup maksimal, karena saya harus melakukan hal-hal biasa dengan cara-cara yang tak biasa. Misalnya saja, jika kamu berjalan dengan sepasang mata, maka saya harus terbiasa berjalan dengan sebuah tongkat. Jika kamu membaca buku atau menonton televisi dengan indera penglihatan, maka[…]