Resolusi & Perjalanan

By. Rachel Stefanie Halim

Banyak dari kita selalu membuat resolusi di setiap pergantian tahun, menjadikannya semacam kredo, doa dan harapan sekaligus janji hati, bahkan banyak yang merasa wajar jika itu diumumkan di media sosial.

Sementara ada juga yang bilang lebih afdhol jika doa dibiarkan mengendap di lubuk hati? Ibarat ide, resolusi punya hak privacy.

Apa pun pemikiran kita tentang resolusi adalah sah-sah saja. Yang jadi ganjalan hanyalah, apakah resolusi itu benar-benar dijalankan? Dikejar? ditangkap? digeluti? Jadi komitmen ? taukah hanya berhenti dalam pemikiran saja? Mau itu pemikiran di hati atau pun pemikiran di kepala.

Kalau tidak ada catatan sebagai evaluasi, mana tahu kita sudah bergerak atau diam di tempat? Mana tahu kita maju atau mundur?

Resolusi itu ibarat sebuah perjalanan. Halangan bahkan benturan keras adalah bagian dari perjalanan. Dari batu kerikil sampai bongkahan batu besar, hujan gerimis sampai badai petir, ban kempes sampai ban meletus, semuanya mungkin terjadi dalam sebuah perjalanan. Apa pun yang terjadi, seharusnya dan selayaknya janganlah kita menghentikan perjalanan. Kalau pun berhenti, itu hanyalah untuk sekedar membetulkan sesuatu yang memang perlu diperbaiki, membenahi apa yang perlu dibenahi, mengisi kembali bahan bakar untuk akhirnya kembali melanjutkan perjalanan, sampai kita benar-benar tiba di tujuan dengan selamat.

Menurut survei yang dilakukan oleh majalah Time, ada 10 resolusi tahun baru paling populer :
1. Menurunkan berat badan supaya lebih sehat
2. Berhenti merokok
3. Belajar hal – hal baru
4. Makan makanan yang sehat
5. Bebas dari hutang dan bisa menabung
6. Meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga
7. Traveling ke tempat-tempat baru
8. Bebas dari stres
9. Membaktikan diri untuk kegiatan sosial
10. Mengurangi minum minuman keras

Seorang teman laki-laki, berusia 25 tahun, bercerita tentang resolusinya di tahun 2017, yaitu menurunkan berat badan dari 85 kg ke 65 Kg. Setelah melakukan evaluasi, ternyata berat badannya masih bercokol di angka 85 kg, alias gatot (Gagal Total). Ia mengakui bahwa kesalahan terbesarnya adalah kurangnya komitmen menjaga pola makan dan olah raga. Saat ditanya apa resolusinya di tahun 2018, dia pun berkata kalau akan meneruskan perjalanannya yang belum selesai : Menurunkan berat badan! Sebenarnya, resolusinya bukan gagal, tapi belum selesai, karena resolusi adalah sebuah perjalanan.

Sekarang, untuk membuktikan kebulatan tekadnya, dia mengatakan kepada teman-teman sekantornya bahwa resolusinya yang pertama di tahun 2018 adalah “Di Bulan Febuari sudah harus turun 5 Kg”. Jika gagal, maka sebagai konsekuensinya dia akan mentraktir semua teman kantor makan Bebek.

Dari pengalaman teman saya di atas, bisalah kita ambil pelajaran bagaimana agar resolusi kita bisa berhasil :
1. JANGAN CEPAT MENYERAH dan berputus asa bila resolusi kita belum berhasil atau gatot. Kembali bulatkan tekad, kuatkan hati dan lanjutkan perjalanan.
2. BUAT DAFTAR hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh kita lakukan selama proses mewujudkan resolusi tersebut.
3. TENTUKAN KONSEKUENSI apa yang akan kita lakukan jika resolusi itu tidak berjalan semestinya, karena konsekuensi bisa menjadi motivasi.
4. CERITAKAN MINIMAL ke-3 ORANG TEMAN tentang resolusi kita sekalian juga dengan jenis konsekuensinya jika tidak berhasil, supaya mereka bisa menjadi pengingat, pendukung sekaligus oknum yang akan selalu mengintimidasi kita untuk terus berjuang.

“Kita akan selalu memiliki dua hal dalam segala sesuatu. Pertama komitmen tanpa rasa takut. Kedua, takut membuat komitmen”

So apa yang sudah jadi komitmen kita, teruslah bergerak maju.