Puasa dan Bekerja

Oleh : Rachel Stefanie Halim

Ramadhan akan segera tiba, dan seluruh umat islam pasti berbahagia menyambutnya. Puasa ramadhan adalah puasa yang wajib hukumnya dikerjakan oleh umat islam. Puasa juga merupakan tanda orang beriman kepada Allah dan mematuhi perintahnya. Karenanya, sebagai umat bertakwa, setiap umat Islam wajib menunaikan ibadah puasa apa pun halangan, tantangan atau hambatan yang mengikutinya. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk tidak mengerjakan apa yang harus dikerjakan, karena sesungguhnya Allah tak dapat dikelabui oleh akal manusia.

Saya teringat ketika saya mengikuti pelatihan outbound di Jatiluhur Purwakarta bersama teman-teman tunanetra lainnya. Kebetulan saat itu adalah bulan puasa. dua orang instruktur kami adalah Muslim yang taat, sehingga mereka tetap puasa meski harus membimbing kami dalam latihan fisik yang berat.

Kegiatan kami dimulai dari subuh hingga malam hari. Dari membangun tenda, berolah raga, membuat rakit,mendayung, berenang di danau, sampai melatih kami menaiki tali setinggi sepuluh meter, menyusuri tali demi tali, hingga semua peserta berhasil kembali menuruni tali tersebut. Bahkan ketika para peserta yang non-muslim makan siang, kedua instruktur itu tetap menemani kami dengan semangat dan senyum yang tak pernah pudar dari bibir mereka.

Yang saya pelajari dari para instruktur adalah :

  1. Semangat mereka membuat hati kami bergetar oleh rasa kagum dan hormat. Semangat merekalah yang membuat kami berhasil menyelesaikan seluruh latihan, tanpa rasa takut maupun keluhan, meski kami harus menjalaninya dalam kegelapan.
  2. Ketulusan hati merekalah yang telah mencelikan mata hati kami, sehingga kami mampu melihat dan menikmati keindahan alam di sekitar kami yang sebelumnya tidak pernah kami sadari dalam kegelapan dunia kami.

Inilah yang dinamakan ibadah puasa yang sesungguhnya, melakukan segala sesuatu dengan SEMANGAT dan dengan KETULUSAN HATI, niscaya apa yang kita lakukan mejadi amalan ibadah puasa dibulan Ramadhan tahun ini.

“Jadikanlah ibadah puasa sebagai berkah, bukan batu sandungan”